+62 22 4231280  +62811 2001 005

Jumat, 11 April 2025 13:08

Glaukoma Sudut Tertutup Primer

Rate this item
(4 votes)

Glaukoma merupakan penyebab kebutaan kedua terbanyak secara global. Kebutaan yang terjadi akibat glaukoma merupakan kebutaan yang ireversibel (permanen) sehingga menjadi tantangan yang besar bagi kesehatan mata. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa terdapat 285 juta orang didunia mengalami gangguan penglihatan, 39 juta diantaranya mengalami kebutaan.

Glaukoma menyebabkan gangguan penglihatan sebanyak 2% dan kebutaan sebanyak 8%. Pada tahun 2020 diperkirakan penderita glaukoma di seluruh dunia akan meningkat sebanyak 76 juta dengan proporsi terbanyak terdapat di wilayah Asia dan Afrika. Pada tahun 2040 diperkirakan angka penderita glaukoma menjadi sekitar 111 juta.

Berdasarkan jumlah angka kejadian, jumlah kasus glaukoma yang tertinggi berada di wilayah Asia karena 60% dari seluruh glaukoma di dunia berasal dari wilayah Asia. Tiga puluh enam persen pasien glaukoma sudut terbuka primer dan 70% pasien glaukoma sudut tertutup primer ditemukan dalam status buta pada saat pemeriksaan. Glaukoma sudut tertutup primer menyebabkan kebutaan tiga kali lebih besar dibandingkan dengan glaukoma sudut terbuka primer.

Berdasarkan Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) tahun 2014-2016, prevalensi kebutaan di Indonesia adalah sebesar 3%. Glaukoma menempati urutan ketiga penyebab kebutaan di Indonesia setelah katarak dan penyakit segmen posterior.


PROSES PENYAKIT GLAUKOMA
Secara normal, di dalam bola mata terdapat cairan (cairan aquos) yang berfungsi untuk memberikan nutrisi bagi organ yang terdapat di dalam bola mata dan berkontribusi memberikan volume/tekanan pada bola mata. Cairan tersebut diproduksi dan dikeluarkan kembali dalam siklus yang seimbang sehingga tekanan bola mata terjaga dalam nilai normal (16±3 mmHg) (Gambar 1).

Pada glaukoma terjadi ketidakseimbangan siklus aliran cairan aquos. Cairan aquos diproduksi tetapi terdapat masalah dalam saluran pengeluaran sehingga produksi tidak seimbang dengan pengeluaran dan akibatnya tekanan bola mata meningkat. Peningkatan tekanan bola mata tersebut mengakibatkan terjadinya penekanan pada saraf mata pusat yang akhirnya dapat menyebabkan kerusakan saraf mata pusat (Gambar 2).

Kerusakan pada saraf mata pusat ditandai dengan penipisan lapisan ketebalan saraf mata pusat yang khas untuk penyakit glaukoma (gambar 3).

Kerusakan saraf mata pusat memberikan dampak klinis yaitu terjadinya penyempitan lapang pandang dan menurunnya tajam penglihatan. Penyempitan lapang pandang ini terjadi secara bertahap, sedikit demi sedikit sampai akhirnya penderita hanya seperti melihat dari lubang kunci bahkan sampai menimbulkan kebutaan (Gambar 4).

KLASIFIKASI GLAUKOMA
Glaukoma dapat dibagi menjadi glaukoma primer dan sekunder. Glaukoma primer terjadi tanpa disertai dengan penyebab/penyakit yang lain. Glaukoma sekunder memiliki penyebab/penyakit lain yang mendasari terjadinya glaukoma, seperti adanya peradangan pada mata, trauma pada mata, setelah operasi mata, atau akibat efek samping obat (golongan kortikosteroid). Secara struktur, dilihat dari sudut bilik mata depan, glaukoma dapat dibagi menjadi glaukoma sudut terbuka dan glaukoma sudut tertutup (gambar 5).

Glaukoma bila dilihat dari segi usia dapat dibagi menjadi glaukoma kongenital (terjadi pada bayi baru lahir sampai 1 tahun pertama kehidupan), glaukoma developmental (usia diatas 1 tahun), glaukoma juvenile (usia muda di bawah 40
tahun), dan glaukoma yang terjadi di atas 40 tahun (yang paling banyak ditemukan).


GLAUKOMA SUDUT TERTUTUP PRIMER
Glaukoma sudut tertutup primer banyak terjadi pada populasi Asia. Faktor risiko terjadinya glaukoma sudut tertutup primer adalah adanya peningkatan tekanan bola mata yang merupakan factor risiko utama, usia diatas 40 tahun, riwayat keluarga dengan glaukoma, ras Inuit dan populasi Asia, jenis kelamin perempuan, dan status refraksi menggunakan kacamata plus tinggi untuk melihat jauh.

Glaukoma sudut tertutup primer dapat dibagi menjadi:
a. Tersangka sudut tertutup primer
Pada keadaan ini, belum ada peningkatan tekanan bola mata dan kerusakan saraf mata pusat khas glaukoma, hanya ditemukan sudut bilik mata depan yang tertutup secara aposisional (bila dilakukan penekanan pada kornea mata, sudut bilik mata depan menjadi terbuka).

b. Sudut tertutup primer
Pada keadaan ini sudut bilik mata depan tertutup secara permanen tanpa atau dengan disertai dengan peningkatan tekanan bola mata, namun belum ditemukan kerusakan saraf mata pusat khas glaukoma.

c. Glaukoma sudut tertutup primer
Pada keadaan ini sudut bilik mata depan tertutup secara permanen disertai dengan peningkatan tekanan bola mata dan sudah ditemukan kerusakan saraf mata pusat khas glaukoma. Glaukoma sudut terbuka primer dapat terjadi secara akut atau kronis. Pada glaukoma serangan akut, gejala terjadi secara mendadak yang ditandai dengan nyeri hebat daerah mata dan kepala, dapat disertai mual dan muntah, tajam penglihatan turun mendadak (menjadi sangat buram), mata merah, tekanan bola mata sangat tinggi (bisa lebih dari 30 mmHg). Pada glaukoma sudut tertutup primer kronis, perjalanan penyakit berjalan secara lambat, terjadi penutupan sudut bilik mata depan secara perlahan. Tidak didapatkan nyeri ataupun
mata merah, terjadi pada kedua mata namum derajatnya dapat berbeda. Pasien dapat mengeluhkan melihat ‘halo’ (melihat seperti pelangi saat melihat cahaya). Terjadi penyempitan lapang pandang secara bertahap dan bila tidak tertangani dapat berakhir dengan kebutaan.

PENATALAKSANAAN
Tatalaksana serangan akut harus dilakukan dengan segera karena merupakan salah satu kegawatdaruratan di bidang mata. Tujuan terapi pada penderita glaukoma serangan akut ini adalah untuk dengan cepat menurunkan tekanan bola mata, sehingga meredakan keluhan yang ada, untuk mempersiapkan tindakan selanjutnya, dan untuk mempertahankan fungsi penglihatan yang ada. Terapi awal adalah pemberikan obat-obatan berupa tetes mata dan obat minum baik dalam bentuk tablet dan/atau sirup, bahkan dapat juga ditambahkan terapi melalui jalur intravena (infus) bila diperlukan. Terapi ini bertujuan untuk menurunkan tekanan bola mata secara cepat dan bila tekanan bola mata dapat turun, kornea menjadi lebih jernih yang diperlukan untuk tindakan selanjutnya. Bila keadaan sudah memungkinkan (keadaan pasien sudah lebih baik dengan tekanan bola mata yang lebih rendah, kornea lebih jernih), dapat dilakukan tindakan laser untuk memberi lubang pada bagian iris (selaput pelangi yang memberikan warna pada mata kita) di bagian perifer untuk menyeimbangkan tekanan di bilik mata bagian belakang dan bagian depan, sehingga tekanan bola mata dapat lebih stabil. Bila tindakan laser ini tidak dapat dilakukan, makan tindakan operasi menjadi pilihan untuk membuat saluran agar cairan aquos dapat disalurkan dan tekanan bola mata dapat turun.

Pada keadaan tekanan bola mata yang mendadak tinggi, dapat menyebabkan kerusakan saraf mata pusat yang mendadak pula, tetapi dapat juga keadaan dimana saraf mata pusat tetap baik setelah serangan akut teratasi. Bila satu mata terkena serangan akut, perlu diperhatikan juga untuk mata sebelahnya.

Mata sebelahnya biasanya terdapat sudut sempit walaupun tanpa gejala. Hal ini membuat sewaktu-waktu dapat terjadi glaukoma atau serangan akut di masa mendatang. Untuk mencegah hal tersebut, disarankan dilakukan tindakan laser (untuk membuat lubang kecil pada iris) pada mata yang masih sebelahnya yang masih tidak memiliki gejala. Pada glaukoma sudut tertutup kronis, tatalaksana medikamentosa menjadi terpai awal untuk menurunkan tekanan bola mata. Tindakan laser untuk membuat lubang pada iris. Bila membuat lubang pada iris belum bisa menurunkan tekanan bola mata atau pada glaukoma tahap lanjut dapat dilakukan tindakan operasi glaukoma pembuatan saluran. Pada sudut tertutup, operasi katarak atau pengangkatan lensa menjadi salah satu pilihan karena dapat membuat area bilik mata depan lebih dalam sehingga aliran cairan aquos lebih baik.

PENCEGAHAN GLAUKOMA
Pencegahan untuk mencegah timbulnya glaukoma hingga saat ini belum ada, tetapi kita dapat mencegah jangan sampai terjadi kebutaan akibat glaukoma. Deteksi dini menjadi sangat penting pada kasus glaukoma. Semakin cepat kasus glaukoma ditemukan, semakin cepat kita dapat memberikan pengobatan dengan harapan kerusakan yang terjadi di tahap awal tidak cepat berlanjut menjadi parah dan masih bisa dipertahankan sehingga penglihatan dan lapang pandang masih dapat terjaga.

Memeriksakan mata secara rutin, terutama pada orang-orang yang memiliki faktor risiko yang telah dijelaskan sebelumnya sangat disarankan.


PENUTUP
Glaukoma sudut tertutup banyak ditemukan pada populasi Asia. Penemuan kasus secara dini merupakan cara pencegahan berkembangnya penyakit glaukoma ke tahap yang lebih parah. Tindakan laser dan tindakap operasi menjadi
pilihan pada tatalaksana glaukoma sudut tertutup primer. Kepatuhan pengobatan dan kontrol teratur perlu dilakukan pada penderita glaukoma.

(oleh : Dr. dr R Maula Rifada, SpM(K) - Dokter Mata Sub Spesialis Glaukoma PMN RS Mata Cicendo)

Read 4918 times Last modified on Jumat, 11 April 2025 13:35
Login to post comments

Visi dan Misi

Visi dan Misi Tahun 2025 - Tahun 2029

Visi

Rumah Sakit Bertaraf Level Asia yang Memiliki Pelayanan Mata Unggulan dengan Pertumbuhan Berkelanjutan

Misi

  1. Memperbaiki fasilitas pendukung dan waktu tunggu pelayanan untuk meningkatkan kepuasan pasien
  2. Meningkatkan produktivitas kerja dengan melakukan perbaikan sistem remunerasi, pelatihan dan pengembangan karir yang berkeadilan
  3. Standarisasi pelayanan dengan Panduan Praktek Klinis (PPK) dan clinical pathway
  4. Memperbaiki sistem, proses dan manajemen operasional rumah sakit secara efektif dan efisien melalui digitalisasi pelayanan
  5. Mengampu rumah sakit daerah untuk turut serta dalam peningkatan kapabilitas jaringan rumah sakit dalam skala nasional secara merata
  6. Meningkatkan kemampuan penyelenggaraan pendidikan dan penelitian untuk mendukung pengembangan layanan berbasis riset

 

Visitor

Today54
Yesterday23
This week157
This month178
Total2591283

Who Is Online

2
Online

 

Jl. Cicendo No. 4, Kelurahan Babakan Ciamis, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat - 40117

Instalasi SIMRS 2022 © Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo. All Rights Reserved.