+62 22 4231280  +62811 2001 005

Super RS

Super RS

Lydia Permata Hilman, dr / Dr. dr. Karmelita Satari, Sp.M (K)

Aniridia adalah salah satu penyakit langka dengan hipoplasia iris dan umumnya bersifat bilateral yang muncul sejak lahir. Insidensi aniridia kongenital berkisar sekitar 1 dari 40.000 hingga 100.000 bayi baru lahir di dunia. Penelitian telah mencatat adanya gen PAX6 terletak pada kromosom 11p13 pada manusia yang diekspresikan pada kornea, lensa, iris, dan retina. Mutasi akan mengakibatkan terjadinya panokular. Aniridia mempengaruhi banyak aspek visual dari kehidupan seseorang. Pemeriksaan ketajaman visual dilakukan untuk menentukan tingkat penglihatan seseorang. Pasien aniridia mengalamai penurunan ketajaman visual berkisar dibawah 20/60 hingga 20/400. Morbiditas visual dari aniridia disebabkan karena multifaktorial yang menyebabkan pasien mengalami berbagai gejala seperti silau, penurunan tajam penglihatan, dan nistagmus. Temuan lainnya yang ditemukan pada pasien aniridia diantaranya adanya katarak, glaukoma, keratopati, dan optic disc hypoplasia.

Kondisi mata yang mengakibatkan gangguan penglihatan pada masa kanak-kanak salah satunya adalah aniridia. Pada tahun 2015 terdapat 252 juta orang di seluruh dunia terganggu secara visual, 19 juta diantaranya adalah anak di bawah usia 15 tahun. Amerika serikat memperkirakan bahwa 0,2% populasi usia sekolah terdiri dari anak-anak dengan low vision. Berdasarkan World Health Organization (WHO) pada International Classification of Disease 10th Revision (ICD 10), low vision didefinisikan sebagai tajam penglihatan kurang dari 6/18 sampai dengan persepsi cahaya atau lapang pandang kurang dari 10° dari titik fiksasi, namun dapat menggunakan penglihatannya dalam menjalankan tugas dimana penglihatannya dibutuhkan. Gangguan penglihatan dekat definisikan sebagai tajam penglihatan dekat kurang dari dari N8 (1.0 M) dalam jarak 40 cm dengan koreksi terbaik.

Gangguan penglihatan penderita low vision pada masa kanak-kanak seringkali memiliki implikasi seumur hidup. Berbagai penelitian menunjukan bahwa gangguan penglihatan pada anak dapat mempengaruhi kualitas hidup sehari-hari, proses belajar di sekolah, dan perkembangan anak. Anak berhak mendapatkan layanan rehabilitasi low vision yang paling efektif untuk mencapai kesejahteraan dan mencapai kualitas hidup yang baik. Berbagai intervensi untuk anak-anak telah dikembangkan, namun dibutuhkan efektivitas intervensi yang baik untuk mencapai hasil yang maksimal. Laporan kasus ini bertujuan untuk memberikan gambaran klinis profil anak dengan aniridia dan memaparkan tatalaksana yang tepat untuk pasien dengan moderate visual impairment dengan Aniridia.

Tatalaksana pasien low vision dengan moderate visual impairment disertai aniridia dengan pemberian kacamata lensa fotokromik untuk memaksimalkan penglihatan dan mengurangi silau. Pasien diberikan edukasi mengenai penyakit dan prognosisnya. Pemilihan alat bantu yang sesuai dengan kebutuhan pasien akan mengoptimalkan fungsi sosial dan kualitas hidup pasien. Kontrol secara teratur diperlukan untuk mengevaluasi kondisi pasien, mencegah komplikasi akibat progresivitas yang akan terjadi, dan evaluasi penggunaan alat bantu lain sesuai kebutuhan yang berubah seiring dengan bertambahnya usia.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Bulman JK. Low vision and aniridia. In: Aniridia and WAGR Syndrome:A Guide for Patients and Their Families. New York: Oxford Academic; 2010. hlm. 94–109.
  2. Ugalahi MO, Ibukun FA, Olusanya BA, Baiyeroju AM. Congenital aniridia: clinical profile of children seen at the University College Hospital, Ibadan, South-West Nigeria. Ther Adv Ophthalmol. 2021;21(2):101-6.
  3. Ching MJF, Gasolasco ET. Low vision assessment and management of a congenital aniridia and associated cataract. Advances in Health Sciences Research. 2019;26:215–8.
  4. WHO. Blindness and vision impairment. World Health Organization. 2021.
  5. Jackson AJ, Wolffsohn JS. Epidemiology of low vision. In: Low vision manual . Philadephia: Elsevier; 2007. hlm. 1–25.
  6. American Academy of Ophthalmology. Visual rehabilitation . In: Brodie SE, Gupta PC, Irsch Kristina, Jackson M lou, Mauger TF, Strauss L, editors. Basic and clinical science course: Clinical Optics. San Franscisco: American Academy of Ophtalmology; 2021. hlm. 309–29.
  7. Elsman EBM, al Baaj M, van Rens GHMB, Sijbrandi W, van den Broek EGC, vander Aa HPA, et al. Interventions to improve functioning, participation, and quality of life in children with visual impairment: a systematic review. Surv Ophthalmol. 2019 Jul 1;64(4):512–57.
  8. Shahid K, Wilkinson M. Evaluation and management consideration for children who are visually impaired. Vol. 34, Saudi Journal of Ophthalmology. Wolters Kluwer Medknow Publications; 2020. hlm. 124–8.
  9. Landsend ES, Utheim OA, Pedersen HR, Lagali N, Baraas RC, Utheim TP. The genetics of congenital aniridia - a guide for the ophthalmologist. Survey of opthalmology. 2018;63(1):105–13.
  10. The American Association of Ophthalmologist. Disorders of the anterior segment. Vol. chapter 21. USA: AAO; 2021.
  11. American Academy of Ophthalmology. Basic Clinical Science Course Section 6:Pediatric Ophthalmology and strabismus. San Francisco: American Academy of Ophthalmology ; 2021.
  12. Bourne RR, Steinmetz JD, Flaxman S, Briant PS, Taylor HR, Resnikoff S. Trends in prevalence of blindness and distance and near vision impairment over 30 years: an analysis for the global burden of disease study. Lancet Glob Health. 2020;9(2):130–43.
  13. Weissbart, B S, Ayres, D B. Management of aniridia and iris defects. Curr Opin Ophthalmol. 2016 May;27(3):244–9.
  14. Vincent SJ. The use of contact lenses in low vision rehabilitation: optical and therapeutic applications. Clin Exp Optom. 2017;100:513–21.11
  15. Chao J, Reddy D, Gupta C. Intrastromal keratopigmentation for photophobia secondary to traumatic aniridia. Am J Ophthalmol Case Rep. 2022;26:1–3.
  16. Hasani H, Es’haghi A, Rafatnia S, Alilou S, Abolmaali M. Keratopigmentation: a comprehensive review. Springer nature. 2020;34:1039–46.
  17. Alexander T, Cahyaningsih E. Prosedur tato kornea. Intisari Sains Media. 2021;12(3):1007–10.
  18. Figueiredo GB, Snyder ME. Long term follow up of a custom made prosthetic iris device in patients with congenital aniridia. J Cataract Refract Surg. 2020;46(6):879–87.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi, sering disebut sebagai “the silent killer karena sering tanpa keluhan. Hipertensi menjadi kontributor tunggal utama untuk penyakit jantung, gagal ginjal, dan stroke di Indonesia.

Seseorang didiagnosis hipertensi jika hasil pengukuran tekanan darah menunjukkan hasil tekanan sistol (angka yang pertama) ≥ 140 mmHg dan/atau tekanan diastol (angka yang kedua) ≥ 90 mmHg pada lebih dari 1(satu) kali kunjungan.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2018) prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 34,1%. Ini mengalami peningkatan dibandingkan prevalensi hipertensi pada Riskesdas Tahun 2013 sebesar 25,8%. Diperkirakan hanya 1/3 kasus hipertensi di Indonesia yang terdiagnosis, sisanya tidak terdiagnosis.

Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia dr. Erwinanto, Sp. JP(K), FIHA mengatakan kalau seseorang menderita hipertensi dan tidak dikontrol akan menjadi kontributor tunggal yang utama untuk penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal.

“Setiap peningkatan darah 20/10 mm Hg akan meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung koroner 2 kali lebih tinggi,” katanya pada konferensi pers Hari Hipertensi Sedunia secara virtual, Kamis (6/5).

Hipertensi dapat dicegah dengan mengendalikan perilaku berisiko seperti merokok, diet yang tidak sehat (kurang konsumsi sayur dan buah, konsumsi garam berlebih), obesitas, kurang aktivitas fisik, konsumsi alkohol, dan stres. Keberhasilan mengontrol tekanan darah mencapai target terbukti menurunkan kejadian stroke sebesar 30-40% dan kejadian penyakit jantung koroner sebesar 20%.

Konsumsi garam harus diperhatikan, dianjurkan 5 sampai 6 gram perhari. Sayangnya dalam praktek sehari-hari seseorang tidak pernah menghitung berapa banyak konsumsi garam.

Selain mengonsumsi garam, kiat sehat untuk menurunkan hipertensi harus dilakukan. Erwinanto menyarankan untuk perbanyak makan sayur, buah, sedikit lemak jenuh, ikan, dan sedikit gula. Hal itu harus diiringi dengan berolahraga secara teratur 30 menit per hari.

Perlu Dikontrol

Jika seseorang mengalami hipertensi, maka upaya yang harus dilakukan adalah mengontrol tekanan darah. Masyarakat diimbau melakukan cek tekanan darah di fasilitas kesehatan terdekat.

Kalau pasien yang sudah hipertensi diharapkan segera mengunjungi dokter untuk mendapatkan penanganan dan upaya-upaya yang harus dilakukan untuk mengontrol hipertensi.

“Kalau individu itu sudah mendapatkan obat dan sudah tahu tekanan darahnya harus diturunkan berapa maka selanjutnya minum obat terus walaupun tekanan darahnya sudah mencapai target.

Hipertensi adalah penyakit kronik yang tidak bisa disembuhkan. Jadi kalau seseorang tekanan darahnya sudah mencapai target bukan berarti dia sembuh, tapi terkontrol. Kalau sudah terkontrol maka diharapkan penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal, risikonya akan menurun.

“Yang penting kalau kita bisa mengontrol tekanan darah maka risiko untuk terjadinya stroke dan kematian akibat stroke akan turun 30 sampai 40%,” ucap Erwinanto.

Upaya pemerintah untuk mengelola hipertensi di masyarakat dengan promosi kesehatan, deteksi dini, dan penanganan kasus. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dr. Cut Putri Arainie mengatakan yang paling penting adalah mencegah dari faktor resiko.

“Begitu ada faktor risiko segera ubah perilaku, karena kalau sudah ada penyakit tidak menular termasuk hipertensi itu hanya bisa dikontrol sepanjang usia, sepanjang itu juga dia harus patuh minum obat sesuai anjuran dokter,” kata dr. Cut.

Hari Hipertensi Sedunia

Hari Hipertensi Sedunia diperingati setiap tanggal 17 Mei. Tema Global Hari Hipertensi Sedunia Tahun 2021 ini adalah “Measure Your Blood Pressure Accurately, Control It, Live Longer”. Indonesia mengadopsi dengan tema : “Cegah dan Kendalikan Hipertensi dengan Tepat untuk Hidup Sehat Lebih Lama”.

Tema ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melakukan pencegahan dan pengendalian hipertensi yang dimulai dari diri sendiri dan keluarga. Masyarakat diimbau melakukan pengukuran tekanan darah secara mandiri atau di fasilitas pelayanan kesehatan secara berkala minimal 1 bulan sekali.

Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular menyelenggarakan “Gerakan Pengukuran Tekanan Darah Secara Mandiri” selama Bulan Mei 2021 melalui website https://cegahhipertensi.top

Melalui website tersebut, seseorang dapat mengetahui kategori tekanan darah dengan menginput data tekanan darah sebelumnya. Tak hanya itu, di dalamnya juga berisi informasi dan edukasi terkait pencegahan dan pengendalian hipertensi.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat (drg. Widyawati, MKM)

TATA CARA RESERVASI/PENDAFTARAN PASIEN KONTROL REGULER DAN PAVILIUN SECARA ONLINE MELALUI SMS/Whatsapp DAN ANDROID/WEB:

 

 

Visi dan Misi

Visi dan Misi Tahun 2025 - Tahun 2029

Visi

Rumah Sakit Bertaraf Level Asia yang Memiliki Pelayanan Mata Unggulan dengan Pertumbuhan Berkelanjutan

Misi

  1. Memperbaiki fasilitas pendukung dan waktu tunggu pelayanan untuk meningkatkan kepuasan pasien
  2. Meningkatkan produktivitas kerja dengan melakukan perbaikan sistem remunerasi, pelatihan dan pengembangan karir yang berkeadilan
  3. Standarisasi pelayanan dengan Panduan Praktek Klinis (PPK) dan clinical pathway
  4. Memperbaiki sistem, proses dan manajemen operasional rumah sakit secara efektif dan efisien melalui digitalisasi pelayanan
  5. Mengampu rumah sakit daerah untuk turut serta dalam peningkatan kapabilitas jaringan rumah sakit dalam skala nasional secara merata
  6. Meningkatkan kemampuan penyelenggaraan pendidikan dan penelitian untuk mendukung pengembangan layanan berbasis riset

 

Visitor

Today54
Yesterday23
This week157
This month178
Total2591283

Who Is Online

2
Online

 

Jl. Cicendo No. 4, Kelurahan Babakan Ciamis, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat - 40117

Instalasi SIMRS 2022 © Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo. All Rights Reserved.