Penatalaksanaan katarak pada anak cukup kompleks dan menantang. Deteksi dini, tatalaksana yang tepat dan tindak lanjut jangka panjang sangat penting untuk mencegah kehilangan penglihatan permanen. Katarak pada anak harus segera dilakukan operasi untuk mencegah ambliopia deprivatif. Perkembangan visual yang optimal dapat dicapai bila katarak unilateral dioperasi sebelum usia 6 minggu, sedangkan pada kasus bilateral sebelum munculnya strabismus atau nistagmus (usia 10 minggu) dengan interval operasi tidak lebih dari 1 minggu antar mata.
Katarak traumatika anak adalah salah satu penyebab utama kebutaan monocular pada anak-anak, terjadi pada 29% -57% dari kasus katarak anak. Mata anak masih dalam tahap perkembangan, dan trauma akan menyebabkan komplikasi yang lebih berat. Tatalaksana katarak traumatika yang tidak tepat akan memperburuk penglihatan, termasuk kehilangan penglihatan binokuler, ambliopia, strabismus, low vision, bahkan kebutaan. Komplikasi selain katarak traumatika juga dapat terjadi sehingga trauma pada mata memerlukan penanganan lain selain ekstraksi katarak, yang paling sering dilakukan adalah vitrektomi atau operasi retina.
Modalitas rehabilitasi visual pasca operasi katarak anak meliputi implantasi LIO, kacamata afakia, dan lensa kontak. Kacamata afakia merupakan metode yang efisien untuk rehabilitasi visual pada anak usia dibawah 4 tahun. Lensa bifocal tambahan dibutuhkan untuk anak usia diatas 4 tahun. Lensa kontak biasanya dapat ditoleransi dengan baik dan kekuatan dioptrinya dapat diubah sesuai dengan status refraksi hingga anak siap untuk dilakukan implantasi LIO sekunder. Kekeruhan media pasca operasi katarak masih merupakan komplikasi yang sering ditemukan dan dapat menimbulkan ambliopia deprivatif, sehingga harus segera ditangani. Kekeruhan kapsul posterior (PCO) akan terjadi jika kapsul posterior dibiarkan tetap intak. Kekeruhan masih dapat terjadi bahkan apabila sudah dilakukan kapsulotomi posterior primer, hal ini disebut dengan VAO. Mekanisme terbentuknya kekeruhan/opasifikasi pasca operasi katarak terjadi dalam tiga tahap yaitu proliferasi, migrasi, dan diferensiasi/transformasi. Pertumbuhan abnormal dari sel epitel lensa (LECs) anterior dan ekuator yang masih tersisa menginduksi produksi dan deposisi kolagen serta fibrosis sel metaplasia yang kemudian bermigrasi ke kapsul posterior menghasilkan kekeruhan aksis visual. Fibroblast growth factor (FGF) berperan dalam menginisiasi diferensiasi LECs dalam pembentukan VAO.
Insidensi terbentuknya VAO lebih sering terjadi pada anak dibandingkan dewasa. Hal ini disebabkan oleh aktivitas mitosis sel epitel yang lebih tinggi dibanding pada dewasa. Iris yang lebih tebal dan banyak pembuluh darah menyebabkan respon inflamasi dan reaksi fibrin yang lebih berat, sel-sel epitel lensa yang lebih banyak pada kapsul anterior anak, serta level hormon dan sitokin yang lebih tinggi pada humor akuous. Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya VAO yaitu usia saat dilakukan operasi, kelainan okular dan sistemik lain, jenis katarak, serta pemilihan jenis lensa dan penempatannya.
Usia muda merupakan faktor risiko yang signifikan untuk terjadinya VAO. Anak yang dilakukan operasi pada usia kurang dari 6 bulan, lebih besar terjadinya VAO sebesar 43,7% jika dibandingkan dengan anak yang menjalani operasi pada usia lebih dari 6 bulan yaitu hanya 18,2%. VAO setelah operasi katarak pada tahun pertama kehidupan lebih sering terjadi jika terdapat kelainan mata seperti disgenesis segmen anterior, mikrokornea atau persistent fetal vasculature yang terkait dengan sindrom rubella, toksoplasmosis, serta pars planitis, dan kelainan sistemik seperti arthritis rheumatoid juvenile. Angka kejadian kekeruhan media pasca operasi mencapai 100% dalam waktu 4 tahun jika kapsul posterior dibiarkan tetap intak. Kejadian VAO dapat menurun jika operasi katarak dilakukan PPC dengan atau tanpa VA, akan tetapi penurunan lebih besar terjadi sekitar 20% jika PPC dilakukan dengan VA dibandingkan dengan hanya dilakukan PPC saja yaitu 33,3%. Vitrektomi anterior menurunkan risiko migrasi LECs ke permukaan anterior hyaloid.
Implantasi LIO pada mata anak yang masih mengalami pertumbuhan berhubungan dengan komplikasi perioperatif yang cukup tinggi dan meningkatkan risiko VAO jika dibandingkan pasien dewasa. Pemilihan material LIO seperti square edge, akrilik hidrofobik dapat menurunkan risiko terjadinya VAO jika dibandingkan dengan polymethyl metacrylate (PMMA). Selain itu terdapat beberapa upaya untuk mencegah terjadinya VAO, seperti membuat diameter continuous curvilinear capsulorhexis (CCC) sedikit lebih kecil dari optik lensa agar terbentuk “shink-wrap” pada tepi kapsul anterior dan tepi optik sehingga optic terlindungi dari humor akuos. Hydro dissection-enhanced cortical cleanup yang dapat mengurangi hubungan antara kapsul dan korteks agar sel epitel tidak tersisa. Implantasi LIO in the bag membuat kontak langsung LIO dengan kapsul posterior sehingga dapat mencegah migrasi LECs. Jika salah satu atau kedua haptic tidak in the bag maka akan terbentuk ruang yang memungkinkan LECs tumbuh ke posterior menuju aksis visual.
Pilihan tatalaksana VAO yang utama adalah Nd Yag laser kapsulotomi. Prinsip Nd Yag laser yaitu membuat bukaan pada kapsul posterior, menggunakan jumlah tembakan seminimal mungkin dengan energi yang minimal. Nd Yag laser dilakukan pada ruangan dengan cahaya redup menggunakan lampu slit dengan arah oblique. 1-2 mJ per pulse biasanya cukup untuk membuka kapsul posterior, laser dimulai dari energi yang rendah dan naik jika diperlukan. 5-20 tembakan laser cukup untuk membuat bukaan pada kapsul posterior. Ukuran kapsulotomi biasanya antara 3-4 mm. Tindakan operasi membranektomi dan VA dapat dilakukan jika terapi laser tidak dapat dilakukan seperti pada anak yang tidak kooperatif, tidak mampu fiksasi, dan terdapat nistagmus. Teknik operasi membranektomi dapat dilakukan melalui pars plana atau limbus.
Penatalaksanaan katarak anak memerlukan tindak lanjut jangka panjang. Rehabilitasi visual dan evaluasi terjadinya komplikasi diperlukan pasca operasi katarak. Komplikasi pasca operasi yang sering terjadi adalah VAO. Terapi utama VAO adalah Nd Yag laser kapsulotomi, tetapi pada pasien usia dini, tidak kooperatif, atau tidak mampu fiksasi dapat dilakukan tindakan membranektomi.
