Deva Riana si Dalang Cilik
TIDAK ada seorang ibu pun yang tidak gundah ketika anaknya tiba tiba mundur prestasinya di sekolah.
Begitu juga yang dialami oleh seorang ibu yang bernama Dian Daniatri. Pada suatu hari dia diminta datang di sekolah putranya karena ada harus dibicarakan mengenai putranya.
Meski putranya baru duduk di Taman Kanak kanak, tetap hatinya tak karuan ingin cepat tahu apa yang terjadi dengan putra sulungnya itu.
Setelah menunggu beberapa saat ibu guru pengajar mempersilahkannya masuk. Barulah faham permasalahannya setelah ibu guru itu menceritakan bahwa putranya yang bernama Deva Riana akhir akhir ini turun konsentrasinya dalam menyimak pelajaran.
Setelah dievaluai oleh guru ternyata Deva menurun setelah duduknya dipindahkan ke belakang karena memang ada rotasi tempat duduk. Dari evaluasi itulah diperkirakan Deva mengalami gangguan pada penglihatannya.
Tanpa berpikir lama Dian bersama suaminya, Rizki membawa anak sulungnya itu ke Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung khususnya ke bagian Pediatrik Oftamologi dan Strabismus (PO-Red).
Dari hasil pemeriksaan yang teliti dokter spesialis Mata di Cicendo menyatakan bahwa Deva Riana mengalami kelainan refraksi yaitu kedua matanya silindris 4, yang membuat anak itu terganggu penglihatannya. Sontak pasangan suami istri ini kaget sekaligus sedih mendengar penjelasan dokter.
Namun kesedihan itu burubah drastis stelah dokter spesialis mata ini menyebutkan bahwa mata silindris itu adalah kelainan tajam penglihatan yang dapat diatasi dengan menggunakan kaca mata sehingga penglihatannya seratus persen. Ibu itu sangat bersyukur karena menurut dokter kesegeraan dia membawa putranya ke Cicendo merupakan tindakan yang sangat tepat. Selanjutnya pasangan suami istri ini selalu membawa putra sulungnya itu kontrol sedikitnya enam bulan sekali ke RS Mata Cicendo.
Kini Deva Riana sudah berusia delapan tahun anaknya ceria,cerdas ganteng dan berkacamata. Berkacamata ternyata tidak menghalangi hobi unik Deva.
Dia memiliki kegemaran menonton wayang golek beda dengan teman teman seusianya di zaman “Now” sekarang ini.
Ketika dijumpai Panenjo di ruang tunggu RS Mata Cicendo, Deva membenarkan bahwa kegemarannya itu terjadi sejak kecil. Awalnya dia melihat dari video dan mendengarkan CD kemudian menirukannya secara spontan.
Lama kelaman kegemarannya menonton wayang golek ini menjadi perhatian kedua orang tuanya termasuk sang kakek yang kebetulan pernah menjadi anggota kelompok perkumpulan wayang golek dibawah apimpinan dalang kondang di Jawa Barat.
Tadinya sekedar hobi namun akhirnya menjadi dalang merupakan salah satu cita citanya. Ini terbukti dengan diraihnya gelar juara Dalang Cilik di wilayah Cimahi Selatan. Kegemaran putranya yang dapat dikatakan langka ini, Rizki dan Dian sangat tidak berkeberatan malah keduanya sangat mendorong apabila putranya itu akan menekuni bahkan memilih Dalang sebagai profesi, walau pun tetap pendidikan formal tetap harus ditekuni. Perhatian pasangan orang tua ini sangat tampak ketika mereka mendampingi putra sulungnya itu melakukan kegiatan pedalangan dan tidak lupa mengingatkan putranya disiplin menggunakan kaca mata dan kontrol ke RS Mata Cicendo.

