Tindakan bleb needling merupakan salah satu tatalaksana pada kondisi kegagalan filtrasi pasca trabekulektomi. Prinsip dari tindakan ini adalah menghilangkan jaringan fibrosis yang terbentuk dengan Teknik invasif yang minimal sehingga filtrasi dapat berfungsi dengan baik. Tindakan bleb needling disertai dengan penggunaan anti-fibrotik 5-fluorouracil (5-FU) atau mitomycin-C (MMC) yang dikemukakan dapat meningkatkan angka kesuksesan bleb needling.
Faktor risiko terjadinya kegagalan filtrasi antara lain kondisi uveitis, Neovascular Glaucoma (NVG), pasca tindakan bedah, pseudofakia, afakia, dan ras hitam. Beberapa gejala awal terjadinya kegagalan filtrasi pascatrabekulektomi antara lain meningkatnya TIO secara bertahap setelah 2-4 minggu pasca operasi, meningkatnya vaskularisasi pada bleb, dan pendataran bleb dengan menghilangnya microcyst. Dibandingkan dengan tindakan trabekulekomi kedua atau penggunaan Drainage Tube Implantation (GDD), bleb needling atau transconjungtival needle revision merupakan tindakan yang sederhana untuk mengembalikan aliran humor akuos melalui sklerektomi yang sudah ada sebelumnya ke dalam ruang subkonjungtiva sehingga TIO dapat menurun.
Tindakan bleb needling atau transconjungtival needle revision memiliki keuntungan minimal tindakan bedah dan manipulasi serta control yang baik oleh operator. Tindakan ini disertai dengan pemberian anti-fibrotik (MMC atau 5-FU) yang berfungsi untuk mencegah proliferasi fibroblast pada ruang subkonjungtiva dan kapsul tenon sehingga TIO dapat menurun.