Gambar 1. Mata Normal (kiri) dan Ablasio Retina (kanan)
Ablasio retina merupakan gangguan mata yang terjadi ketika retina terlepas dari bagian belakang mata. Apabila retina lepas, sel saraf mata dapat menjadi kekurangan oksigen serta nutrisi. Terlepasnya retina dapat menyebabkan kehilangan penglihatan sebagian atau bahkan bisa total, bergantung seberapa banyak bagian retina yang lepas.
Gambar 2. Gambar ilustrasi Ablasio Retina
Ablasio retina merupakan suatu kegawatdaruratan medis. Segera hubungi dokter apabila Anda mengalami perubahan penglihatan mendadak. Kondisi ini dapat membawa risiko kehilangan penglihatan permanen apabila terlambat atau tidak ditangani. Ablasio retina memengaruhi 0,6 sampai 1,8 orang per 10.000 orang per tahun. Sekitar 0,3% orang mengalaminya. Kondisi paling umum terjadi pada orang di usia 60 atau 70-an. Pria lebih sering terkena gangguan mata ini dibandingkan dengan wanita.
Seringkali penderita ablasio retina tidak sadar akan gangguan ini karena ablasio retina tidak menyebabkan rasa sakit. Namun, ada beberapa tanda yang biasanya muncul sebelum retina lepas. Gejala – gejala yang terjadi pada ablasio retina adalah pandangan kabur,kehilangan sebagian penglihatan,pandangan mata tampak buram seperti tertutup tirai,kilatan cahaya yang muncul mendadak,area gelap pada bidang penglihatan,melihat banyak floaters, yaitu serpihan-serpihan yang tampak seperti flek hitam atau benang yang mengambang di depan mata.
Gambar 3. Floaters
Terdapat 3 jenis ablasio retina, yaitu: (a)ablasio retina regmatogen dimana terdapat robekan atau lubang pada retina. Hal ini menyebabkan cairan vitreus dari dalam mata keluar melalui lubang dan masuk ke belakang retina. Cairan memisahkan retina dari selaput yang memberikan nutrisi dan oksigen. Hal ini merupakan tipe ablasio retina yang paling sering terjadi.(b) ablasio retina traksi yang terjadi saat jaringan pada permukaan retina berkontraksi dan menyebabkan retina tertarik dari belakang mata. Kondisi ini lebih jarang terjadi. Biasanya dialami oleh orang dengan diabetes. Diabetes dapat menyebabkan masalah dengan sistem pembuluh darah retina dan menyebabkan jaringan luka pada mata yang berakibat pada pelepasan retina.(c) ablasio retina eksudatif dimana terjadi penumpukan cairan di bawah retina yang menyebabkan terpisahnya retina dari selaput yang memberikan nutrisi dan oksigen.penyebab tersering pada kasus ini adalah akibat peradangan,infeksi,tumor ataupun hipertensi.
Ada banyak faktor pemicu yang membuat anda berisiko terkena pelepasan retina ini, antara lain: Usia lanjut,gangguan mata ini lebih umum pada orang di atas 50 tahun,mengalami ablasio retina sebelumnya pada salah satu mata,riwayat keluarga terhadap ablasio retina,rabun jauh (miopia) yang tinggi ( lebih dari 6 dioptri),operasi mata sebelumnya, seperti operasi katarak,cedera mata serius sebelumnya,penyakit atau iritasi mata lain sebelumnya.
Pengobatan terhadap ablasio retina berbeda-beda, tergantung pada kondisi pasien. Jika retina robek atau berlubang namun belum sampai terlepas, dokter mata dapat menerapkan tindakan laser fotokoagulasi. Laser akan membuat jaringan parut di sekitar robekan retina untuk membantu retina tetap menempel.
Gambar 4.Tatalaksana laser pada ablasio retina
Jika retina sudah terlepas, dokter akan mengatasinya dengan tindakan operasi. Jenis operasi yang dilakukan tergantung kepada keparahan kondisi pasien. Operasi tersebut antara lain: (1)Pneumatic retinopexy. Prosedur ini dilakukan dengan menyuntikkan gelembung gas ke mata, yang akan menekan retina kembali ke posisi normal. Prosedur ini dipilih jika bagian retina yang terlepas hanya sedikit. (2)Vitrektomi. Pada vitrektomi, dokter akan mengeluarkan cairan vitreus dan jaringan yang menarik retina. Kemudian, gelembung gas atau silikon akan disuntikkan ke mata untuk menahan retina pada posisinya. Seiring waktu, gelembung gas akan digantikan secara alami oleh cairan tubuh. Prosedur vitrektomi dengan pemasangan silikon di dalam bola mata memerlukan prosedur lanjutan yaitu pengangkatan silikon 3-6 bulan kemudian. (3)Scleral buckling. Pada prosedur ini, dokter akan menempatkan ikat silikon dari sisi luar bagian putih mata (sklera). Silikon ini akan mendekatkan dinding bola mata ke retina, sehingga retina kembali ke posisinya. Jika kondisi lepasnya retina sangat parah, silikon akan dipasang melingkari mata secara permanen. Meski begitu, silikon tidak akan menghalangi penglihatan.
Ablasio retina tidak selalu dapat dicegah. Namun demikian, risiko terjadinya ablasi retina dapat dikurangi melalui beberapa langkah berikut ini : (1) Segera periksa ke dokter mata apabila muncul floaters, kilatan cahaya, atau terdapat perubahan apa pun pada lapang pandang. (2)Rutin memeriksakan mata minimal satu kali setiap tahun. Pemeriksaan harus dilakukan lebih sering jika menderita diabetes. (3)Rutin mengontrol kadar gula dan tekanan darah, agar kondisi pembuluh darah retina tetap sehat. (4)Gunakan pelindung mata saat berolahraga atau saat melakukan aktivitas yang berisiko mencederai mata.
Tentu mencegah jauh lebih baik daripada mengobati, jangan sepelekan gangguan penglihatan pada mata anda, seringkali hal yang kita anggap ringan dapat menyebabkan gangguan permanen. Periksakan mata anda secara rutin ( minimal 1 tahun sekali) untuk selalu memiliki penglihatan yang terbaik.
(judul & sumber : Ablasio Retina : Sang Pencuri Penglihatan, Tim Layanan Vitreoretina PMN RS MATA Cicendo)